detikcom

Di Balik "Sidang" Pengadilan Lalu Lintas

Udaya Manggala - suaraPembaca
Selasa, 27/11/2007 14:40 WIB
Jakarta - Satu lagi fakta menyedihkan mengenai kepastian hukum di Indonesia.

Dua minggu yang lalu, tepatnya 13 November 2007 saya terkena tilang di perpotongan jalan Daan Mogot dan Jl Panjang Jakarta Barat. Kali ini karena motor yang saya kendarai (Honda CBR 150) tidak dipasang plat nomor bagian depan, hanya bagian belakang.

Hal ini saya lakukan karena memang tidak adanya tempat untuk menaruh plat tersebut. Kalau saya paksakan untuk menaruh di bagian dalam kaca depan CBR, maka akan menggores body motor. Ga worthed.

Ketika diajak ke Pos Polisi, tanpa basa-basi saya pun meminta ditilang ke pengadilan. Karena minggu depannya saya mengikuti ujian maka saya meminta sidangnya diundur. Ketika itu sang polisi memberikan informasi, "Kalau Jakarta Barat itu pengadilannya hari Selasa, Jakarta Utara dan Timur hari Jumat". Karena saya tidak mengerti, maka saya pun hanya mengiyakan saja.

Aneh, setiap wilayah punya pengadilan sendiri-sendiri tapi ada hari khusus untuk pengadilan lalu lintas. Mungkin tingkat kejahatan di Jakarta sudah terlalu banyak, pikir saya. Akhirnya ditentukanlah tanggal 27 November 2007 sebagai hari pengadilan saya di
Pengadilan Jakarta Barat Jl S Parman.

Sudah dibayangkan bahwa di pengadilan akan disebutkan kesalahan saya, pasal yang dilanggar, serta denda sesuai dengan kesalahan. Semua itu tentunya di sebuah ruangan sidang yang cukup besar, minimal sebesar ruang kelas sekolah. Akan dibacakan oleh hakim, dsb..

Hari yang ditunggu pun tiba. Hari pengadilan pertama bagi saya. Baru saja saya sampai ke tempat parkir, seorang calo datang dan mengajukan diri untuk mewakili saya mengambilkan Surat Izin Mengemudi (SIM). "Saya ambilin aja Mas ngurusnya sendiri lama, soal duit mah belakangan aja, gampang ... " Singkat saya jawab, "Saya mau ke pengadilan, Mas".

Saya pun memasuki gedung pengadilan. Di sana saya menjumpai seorang pejabat pengadilan di meja resepsionis. Ketika saya bertanya di mana pengadilannya dia berkata, "Sudah lewat, Mas, harusnya jam 10 pagi. Tapi sekarang bisa diambilkan barangnya dan bayar denda langsung saja 65.600."

Saya jawab, "Kan, di suratnya ga ditulis jumlah dendanya, Mas. Gimana tau saya harus bayar berapa? Sekarang baru jam 10.30, di surat tilang juga ga ditulisin, Mas, jam berapa saya harus ikut pengadilan. Emang kalo diundur aja sidangnya gimana?"

Dia balas, "Sidangnya ga bisa diundur, Mas. Kalau 'barangnya' ga diambil sekarang besok ambilnya di Kejaksaaan, Mas. Gimana?"

Saya pun pergi dari tempat itu dan mencoba naik ke ruang yang ada tulisanya "Ruang Sidang Utama". Sebelum naik saya dicegah oleh seorang laki-laki yang kemudian memberitahu saya bahwa ngurus tilang itu ke luar gedung. Ada tempat di sebelah gedung.

Saya pun bergegas ke sana. Jauh dari bayangan saya akan ruang sidang. Sesampainya di sana, saya hanya menjumpai lahan sempit seperti halaman belakang yang dilengkapi bak sampah dan besi-besi berserakan. Di situ ada loket kecil dan beberapa orang menunggu. Ternyata itu adalah tempat "sidang".  

Di sana saya pun hanya menyerahkan slip tilang saya yang berwarna merah ke loket dan diminta menunggu. Petugas loket mencari slip tilang berwarna putih sebagai copy-an slip saya. Kemudian dia memanggil nama saya dengan Toa (pengeras suara). Saya datang menghampiri loket tersebut dan dia menyebutkan "50.000". Saya pun bertanya, "emang, salah saya apa, Pak?"

Dia hanya membalas, "Lah, waktu itu emang pas ditilang dibilanginnya kenapa?" Saya jawab cepat, "ga pake plat nomor depan, Pak. Tapi emang ga ada tempat buat naronya. Trus itu salah saya, Pak?" Katanya, "Yah, kan biasanya udah ada tempatnya." Saya spontan merespon, "Emang saya melanggar pasal mana, Pak?"

"Nih, liat sendiri," sambil memberikan list pasal dan dendanya kepada saya. Tau ga?
Lebih bagusan lembar jawaban gw pas ujian dibandingin kertas pasal pengadilan. Saya melihat list yang semuanya berisi hanya 2 jenis denda; 50.000 dan 100.000.

Selagi melihat–lihat list itu di loket ada seorang nama pelanggar lalu lintas lainnya yang dipanggil ke loket itu. Sang petugas yang telah mengenalnya sebagai calo pun berkata sembari tertawa, "Bilangin sama oranngya, spionnya dipasang".

Tak lama setelah itu saya pun membayar dan segera pergi. Seluruh proses itu tak lebih dari 15 menit.

Udaya Manggala
Perumahan Mahkota Mas Blok O3/7 Tangerang
the7devils@yahoo.com
08568504137

(msh/msh)

Share:
Baca Juga



Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com,
Suara Pembaca Terbaru Index »
OpiniAnda Index »
ProKontra Index »

Biarkan Ahok Pilih Pendampingnya Pimpin DKI

Siapa bakal pendamping Plt Gubernur DKI Ahok? Masih menjadi pro kontra antara parpol di DPRD DKI dan Kemendagri. Kemendagri memastikan Plt Gubernur DKI Basuki T Purnama atau Ahok menjadi Gubernur menggantikan Joko Widodo. Setelah diberhentikan sebagai Wagub dan Plt Gubernur dan diangkat menjadi Gubernur, Ahok bisa memilih dua orang untuk menjadi wakilnya. Bila Anda setuju dengan Kemendagri, pilih Pro!
Pro
76%
Kontra
24%
Poling Index »

Gubernur Jokowi akan memberlakukan sistem pelat nomor ganjil dan genap untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta. Setujukah Anda dengan sistem ini?