detikcom

Prosedur Kaku Penggantian ATM BCA

Surindro Kalbu Adi - suaraPembaca
Kamis, 29/11/2007 14:51 WIB
Jakarta - Saya adalah salah satu pelanggan BCA yang sangat kecewa dengan prosedur yang kaku untuk penggantian ATM yang telah rusak. Kebetulan ATM saya rusak atau sobek pada bagian chip reader dan tidak dapat digunakan.

Hal ini kemudian saya urus bersamaan dengan saya mengganti buku tabungan saya di BCA Kuta Bali. Sebuah jawaban yang mengagetkan bahwa saya harus membawa surat kehilangan dari Kepolisian, selain buku tabungan, kartu Identitas yang saya tunjukkan karena saya tidak membawa fisik dari ATM yang sudah tidak dapat dipergunakan lagi.

Sebuah prosedur untuk menekan biaya penggantian kartu ATM yang rusak dari customer. Hal ini ditambah lagi dengan untuk penarikan di atas 1 juta harus menggunakan ATM. Saya sedang traveling dan harus direpotkan dengan urusan cash money yang menurut saya sangat konyol.

Sementara bank lain menawarkan segala kemudahan dalam features and benefit. BCA malah menawarkan sebuah solusi yang paling merepotkan dengan harus membawa surat keterangan kehilangan dari Kepolisian walaupun kita sudah membawa buku tabungan dan kartu identitas.

Surindro Kalbu Adi
Jl Gatot Subroto 66 X Denpasar
Surindrokadi@gmail.com
08123822255
(msh/msh)

Share:



Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com,
Suara Pembaca Terbaru Index »
OpiniAnda Index »
ProKontra Index »

Tak Perlu Arak-arakan Pesta Rakyat Saat Pelantikan Jokowi

Relawan Jokowi-JK akan menggelar pesta rakyat saat pelantikan presiden dan wapres pada 20 Oktober 2014 nanti dimulai dari Semanggi dan berakhir di Monas. Kapolri Jenderal Sutarman menyarankan tidak perlu ada acara arak-arakan seperti itu. "Saya sarankan tidak perlu arak-arakan, saya kira tidak perlu. Mungkin kalau bersyukur, bersyukur berdoa saja, enggak perlu arak-arakan," kata Kapolri. Bila Anda setuju dengan Kapolri, pilih Pro!
Pro
37%
Kontra
63%
Poling Index »

Gubernur Jokowi akan memberlakukan sistem pelat nomor ganjil dan genap untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta. Setujukah Anda dengan sistem ini?