detikcom

Buka Segel Meter Air Aetra Terlalu Lama

Ign Budi Santoso - suaraPembaca
Selasa, 19/08/2008 12:31 WIB
FOTO: /ist.
Jakarta - Berikut adalah keluhan terhadap salah satu Layanan Publik PT Aetra Air Jakarta. Khususnya KPP BALAI PUSTAKA Rawamangun.

Saya selaku pelanggan Aetra dengan NOMEN : 50002040. Keluhan yang saya alami adalah pembukaan segel pada meteran air yang terlalu lama, dan berkesan diulur waktunya, bertepatan dengan libur tanggal 17-18 Agustus 2008. Berikut kronologinya:

Tanggal 15 Agustus 2008, Hari Jumat. petugas PT Aetra Air Jakarta KPP Menyegel meteran Air Pam saya dikarenakan ada tunggakan pembayaran periode bulan Juni 2008. Pada hari itu juga saya melunasi tunggakan pembayaran periode bulan Juni 2008 dan pembayaran tagihan periode Juli 2008 di kantor KPP BALAI PUSTAKA pada jam 16:41. Saya meminta kepada petugas yang kebetulan berada di salah satu meja customer service untuk dibukakan. Petugas tersebut mengatakan silakan Bapak tunggu dirumah.

Tanggal 16 Agustus 2008, hari Sabtu Jam 10:30. Saya datang ke Kantor KPP BALAI PUSTAKA, hendak menanyakan kapan segel meteran akan dibuka. Ternyata di kantor itu tidak ada satu pun petugas yang berada pada hari itu dengan alasan libur 17 Agustus-an. Itu menurut petugas keamanan yang berjaga.
 
Menurut akal sehat saya, pada hari Sabtu tanggal 16 Agustus 2008 bukan hari libur, dan itu masih hari kerja setengah hari. Jam 13:30 saya melaporkan keluhan ini kepada Call Centre PT Aetra. Petugas layanan tersebut mencatat masalah saya dan mencoba menghubungi KPP BALAI PUSTAKA.

Jam 16:30 saya kembali menghubungi Call Centre dan melaporkan kembali masalah saya. Tanggapan dari Call Centre sangat mengecewakan. Sempat adu argumen dengan saya bahwa pembukaan segel meteran akan dilaksanakan pada hari Selasa karena hari libur 17-18 Agustus 2008.

Saya sudah mengatakan bahwa sumber air di rumah satu-satunya adalah dari Air PAM, dan ini masih hari kerja, bukan hari libur. Seharusnya suatu layanan publik pada hari-hari libur/ hari raya harus ada petugas yang siap melayani.

Tanggal 19 Agustus, hari Selasa jam 9:30 saya menyempatkan diri untuk menunggu di rumah sebelum berangkat ke kantor. Tidak ada petugas yang datang. Sampai berita/ keluhan ini saya tuliskan belum ada petugas yang datang ke rumah.

Pertanyaan saya, adalah beginikah kinerja dari salah satu perusahaan layanan publik yang memegang sektor vital (air minum) dan sudah berganti nama managementnya?

Saya masih ingat perkataan dari Dirut Aetra Syahril Japarin dalam keterangan pers di Gedung Operasional Instalasi Air Buaran, Jl Raya Kalimalang, Selasa (15/4/2008), penurunan kehilangan air ini merupakan salah satu target Aetra yang merupakan transformasi PT Thames Pam Jaya.

Pembaharuan lainnya adalah peningkatan pelayanan pelanggan. "Jadi pelanggan dalam suatu wilayah cukup menemui 1 orang petugas kami. Baik untuk komplain, pemasangan baru, atau lainnya, cukup ke satu orang," katanya.

Ign Budi Santoso
Jl Cipinang Baru Bunder Rt 001/01 No 15
Kompleks Kehakiman Jakarta Timur
budi@digi.net.id
02168624611


(msh/msh)

Share:



Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com,
Suara Pembaca Terbaru Index »
OpiniAnda Index »
  • Sabtu, 20/12/2014 16:04 WIB
    Kemaritiman: Saatnya Mewujudkan Cita-cita Mulia Suharto yang Tertunda
    Hari-hari ini kita membaca dan mendengar pembicaraan tentang kemaritiman di media massa tengah hangat-hangatnya. Tentu antusiasme pejabat dan pemangku untuk membenahi sektor kelautan membuncah, campur aduk antara pesimisme dan optimisme perlu kita dukung meskipun terkesan terlambat.
ProKontra Index »

Kebijakan Ahok Larang Pemotor Masuk HI Digugat

Kebijakan Gubernur DKI Basuki T Purnama atau Ahok yang melarang kawasan HI hingga Medan Merdeka Barat akan digugat. Kebijakan itu dinilai diskriminatif. Bagaimana menurut Anda? Bila Anda setuju kebijakan itu digugat pilih Pro. Bila tidak setuju kebijakan itu digugat pilih Kontra.
Pro
56%
Kontra
44%
Poling Index »

Gubernur Jokowi akan memberlakukan sistem pelat nomor ganjil dan genap untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta. Setujukah Anda dengan sistem ini?