detikcom

Askes di RS Fatmawati Ternyata Askes Sukarela

Wahyu Agung Nugroho - suaraPembaca
Selasa, 04/11/2008 12:04 WIB
Jakarta - Saya pelanggan Askes. Tapi, saya tidak tahu jika ternyata Askes saya adalah Askes Sukarela. Ketika saya berobat ke Rumah Sakit (RS) Fatmawati saya disarankan ke Griya Husada.

Saya mengikuti petunjuk yang diberikan. Saya ke bagian pendaftaran dan saya tanyakan bagaimana prosedurnya berobat menggunakan Askes karena saya belum pernah. "Gampang, ko, Pak. Hanya mengisi daftar formulir berobat pilih pembayaran menggunakan Askes".

Semua saran sudah saya lakukan. Lalu saya berobat. Itu pun bukan ke bagian dokter yang harusnya menangani saya yaitu bagian THT (Tenggorokan, Hidung, dan Telinga). Saya dipindah ke bagian penyakit dalam karena dokter bagian THT tidak hadir. Setelah prosesi pengobatan atas diri saya selesai saya pun bergegas mendatangi Kasir dan menunjukkan bahwa saya bahwa saya berobat menggunakan Askes.

Betapa kagetnya saya setelah saya mendengar penjelasan Kasir bahwa saya harus membayar sejumlah uang. Terang saja saya menolak. Namun, pihak RS Fatmawati tetap bersikeras bahwa saya daftar dengan pembayaran umum bukan Askes.

Oke. Saya mengalah. Namun, ketika saya meminta nama-nama lengkap petugas saat itu saya tidak diberi tahu. Kasir pun yang semula menulis terang namanya di kwitansi pembayaran dengan nama kuat Nehru mengubah namanya dengan Kasir Griya Husada.

Jika melihat dari beberapa kasus RS ini termasuk yang sering mendapat komplain dari pelanggan. Namun, sepertinya hal itu tidak pernah disikapi dengan baik. Hal itu dibuktikan dengan kualitas pelayanan yang tidak juga berbenah. Walaupun akhirnya saya bayar semua tagihan saya saat itu namun saya tidak ikhlas karenanya.

Ini institusi besar. Mengapa tidak diimbangi dengan kualitas pelayanan yang baik. Mengapa pemerintah sepertinya tutup mata dan telinga atas buruknya kualitas pelayanan di RS Fatmawati. Mungkin saya hanya satu dari sekian customer yang mengeluh atas kurang baiknya pelayanan di RS Fatmawati.

Kepada pihak yang berwenang saya berharap dapat memperbaiki hal ini. Kita memang butuh RS Fatmawati. Tapi, bukan berarti kita harus diperlakukan sewenang-sewenang. Sebaiknya citra RS Fatmawati di mata masyarakat harusnya menjadi sebuah kebanggaan untuk seluruh jajaran karyawannya. Bukan buruknya kualitas yang harus dipertahankan.

Wahyu Agung Nugroho
Jl Melati 3 RT 21/01 No 1B Depok
agung.denbagoes@gmail.com
081210310169

(msh/msh)

Share:



Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com,
Suara Pembaca Terbaru Index »
OpiniAnda Index »
  • Selasa, 16/09/2014 11:33 WIB
    'Mengobati' Pilkada Langsung Oleh Rakyat
    Penulis teringat seuntai kalimat ceramah Almarhum Dr.H. Zainuddin MZ, 'ibarat makan salak, bukan isinya yang kita makan tetapi kulitnya yang kita ambil lalu batunya kita telen, ya pasti rusak'.
ProKontra Index »

16 Kursi Menteri dari Parpol di Kabinet Jokowi Terlalu Banyak

Presiden Terpilih Jokowi telah mengumumkan postur kabinetnya. Jokowi memberi jatah 16 kursi untuk kader parpol. Menurut pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto, 16 kursi untuk kader parpol ini dinilai terlalu besar, tak sesuai harapan publik. Awalnya publik mengira jatah menteri untuk parpol jauh lebih sedikit. Bila Anda setuju dengan Gun Gun Heryanto, pilih Pro!
Pro
42%
Kontra
58%
Poling Index »

Gubernur Jokowi akan memberlakukan sistem pelat nomor ganjil dan genap untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta. Setujukah Anda dengan sistem ini?