detikcom

Layanan 'Odong-odong' Tunggal Daya Executive Wonogiri - Jakarta

Edy Sutarmun - suaraPembaca
Sabtu, 02/05/2009 13:17 WIB
Jakarta - Pelayanan angkutan umum Wonogiri - Jakarta sepertinya makin hari makin memburuk saja. Masih ada nggak sih Bus Jurusan Wonogiri - Jakarta yang pelayanannya masih bagus? Seperti bus yang jurusan Tasik - Jakarta, Purwokerto - Jakarta, Garut - Jakarta (yang pernah saya alami bus-bus jurusan ini pelayanannya sangat bagus).
 
Pengalaman saya pada hari Minggu, 26 April 2009 ketika naik bus Tunggal Daya Executive dengan nomor polisi AD 1423 EG dari Terminal Bus Purwantoro Wonogiri tujuan Jakarta Lebak Bulus dengan harga tiket Rp 140,000. Sepanjang perjalanan awak bus terus menerus mencari penumpang yang tidak resmi di pinggir jalan sejak keluar terminal. Bus mencari penumpang yang bukan dari agen yang ditunjuk oleh perusahaan sebagaimana layaknya Bus Antar Kota Antar Propinsi pada trayek yang sama.
 
Ketika bus melaju sampai keluar tol Semarang dan masuk Jl Raya Semarang arah ke Kendal - Jakarta Bus Tunggal Daya Exsecutive masih saja mencari penumpang di setiap ada orang bergerombol atau sedang membawa bawaan tas. Sang kernet sambil teriak, "Jakarta, Jakarta, Mas?"
 
Begitu sampai di Restaurant Sendang Wungu Nggringsing Bus Tunggal Daya Exsecutive berhenti untuk istirahat makan malam. Waktu menunjukkan tepat pukul 20:10. Pukul 21:05 penumpang sudah kembali ke bus menempati tempat duduk semula tanpa dikomando dari awak Bus. Lalu disusul sopir segera menempati posisinya.

Tapi, sesaat kemudian pada saat supir mau menjalankan busnya ternyata tidak bisa masuk gigi mundur. Kemudian ada montir yang datang membantu. Tapi, tidak berhasil. Lalu, bus didorong bergerak mundur. Saya kira untuk meneruskan perjalanan menuju Jakarta. Namun, ternyata hanya jalan lebih kurang 700 meter lalu masuk lagi ke sebuah rumah makan yang mana di situ sudah ada Bus Tunggal daya lain yang mogok.
 
Para penumpang tanpa diberitahu sama sekali oleh awak bus apa yang sedang terjadi. Kami bersama penumpang bus yang lain dibiarkan terlantar hingga jam 01:35 din ihari. Saat itu saya tahu bahwa Bus yang kami tumpangi sedang ada gangguan di sistem transmisinya. Namun, perkiraan saya dari gangguan yang terjadi di bus yang saya tumpangi itu diperbaiki. Atau akan diambilkan onderdilnya dari bus yang sudah mogok lebih dulu di situ.

Tapi, begitu saya melongok keluar saya melihat ada beberapa awak Bus Tunggal Daya beserta dengan petugas kontrol dari PO Tunggal Daya sedang duduk ngobrol membentuk lingkaran di samping bus yang sudah mogok terdahulu.
 
Saya hampiri mereka seraya menanyakan ke kondektur bus yang saya tumpangi tersebut, "iki piye iki? Kok, bus rusak opo didandani opo dikirim bus pengganti. Opo piye carane? Kok ora enek pemberitahuan sama sekali nyang penumpang. Iki piye, Mas? Mbok, yo, ngomong nek bise enek gangguan, terus minta maaf nang penumpang. Iki kabeh penumpang mbayar, dudu penumpang nunut sing ora mbayar, Mas" (artinya: Ini Bagaimana, Kok Bus rusak tidak dibenerin, atau di bagaiamakan? Lalu, tidak ada pemberitahuan sama sekali kepada kami para penumpang. Minta maaf atau bagaimana. Kami ini penumpang mbayar bukan numpang gratis di bis
ini?). Dijawab, "iyo Pak, iki piye lha montore rusak, mengko dioper, Pak" (artinya: Iya Pak, ini mobilnya rusak, nanti dioper Pak). Setelah itu baru penumpang yang lain pada ikut saut-sautan nimbrung dan menghujat awak Bus.
 
Akhir kata kami dioper dengan Bus Patas AC yang sudah 'odong-odong' (kondisinya buruk) dengan tarif harga Executive. Kami tanyakan soal selisih harga yang dari Bus Executive ke Patas 'Odong-odong' dan dijawab oleh kondektur dan petugas kontrol, "aku mung dikon mlaku, Pak. Ora digawani duwit. Dadi yen dijaluki jujul yo ora enek. Arep telpun kantor yo yahene tutup. Dadi yen gelem yo nganggo iki montore sing ngeterke nyang Jakarta. Yen ora gelem yo kono" (artinya: Saya cuma disuruh jalan, Pak. Tidak membawa uang. Jadi kalau dimintain kembalian ya tidak ada. Mau telpun ke kantor juga sudah tutup). Begitu kondektur menjawab dengan rasa tidak berdosa. Lalu bus 'odong-odong' pun meneruskan perjalanan tepat pukul 02:15 dini hari menuju Jakarta.

Di perjalanan saya memanjatkan doa. Semoga istri saya yang sedang sakit (istri saya baru saja keluar dari rumah sakit sehabis dirawat selama 9 hari karena DBD di Rumah Sakit Amal Sehat Slogohimo Wonogiri) tidak mengalami gangguan kesehatan akibat istirahat tidurnya di bus yang sangat tidak layak untuk orang yang sedang sakit ini.
 
Begitulah nasib kami orang Wonogiri yang merantau di Jakarta mengandalkan kendaraan bus untuk bepergian dari dan ke kota Jakarta. Demikian. Jika ada yang tidak berkenan dengan tulisan saya ini saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Terima kasih.

Salam,
Edy Sutarmun
Jl Ampera Raya No 37 Jakarta Selatan
edykismantoro@yahoo.com
08121055244


(msh/msh)

Share:



Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com,
Suara Pembaca Terbaru Index »
OpiniAnda Index »
ProKontra Index »

Jokowi Harus Dengarkan Informasi KPK agar Ciptakan Kabinet Bersih

KPK mengatakan 43 nama calon menteri yang diberikan Jokowi, setengahnya memiliki rapor merah atau incaran KPK. Pengamat politik dari UGM Ari Dwipayana mengimbau agar Jokowi harus mendengarkan informasi dari KPK tersebut agar dapat menciptakan kabinet yang bersih.Bila Anda setuju dengan Ari Dwipayanya, pilih Pro!
Pro
65%
Kontra
35%
Poling Index »

Gubernur Jokowi akan memberlakukan sistem pelat nomor ganjil dan genap untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta. Setujukah Anda dengan sistem ini?