detikcom

Trauma Naik Bus Garuda Mas Jurusan Cepu - Jakarta

Agus - suaraPembaca
Selasa, 30/03/2010 15:31 WIB
FOTO: /ilus ist.
Jakarta - Tanggal 28 Maret 2010 sekitar jam 10-an pagi saya membeli tiket Bus PO Garuda Mas jurusan Cepu - Jakarta kelas Executive dengan nomor seat 18 di Agent Garuda Mas Gubug seharga Rp 160,000. Kalau tidak salah agent namanya Bapak slamet dan diinstruksikan oleh beliau agar jam 4 sore saya sudah datang untuk kumpul di agent tersebut.

Setelah menunggu kurang lebih 1 jam tepat pukul 5 sore bus yang saya akan tumpangi sudah datang. Oleh crew agent saya disuruh segera untuk naik ke armada bus tersebut. Namun, alangkah kagetnya setelah bus sudah jalan. Ternyata di dalam bus tersebut sudah penuh dan tempat duduknya. Sudah terisi semua.

Saya menanyakan ke crew bus nomor seat saya yang mana. Kok, sudah terisi semua. Crew bus memeriksa nomor tiket penumpang yang lain. Ternyata ada kesalahan dari agent lain mengeluarkan nomor seat ganda. Seharusnya seat nomor 18 jatah untuk saya sudah ditempati orang lain.

Setelah negosiasi akhirnya pihak crew bus memberikan solusi supaya saya duduk di bangku smoking area. Oleh karena saya pikir saya membeli tiket Executive itu kenyamanan yang saya cari kok hanya duduk di bangku smoking area.

Pada saat itu juga saya mengatakan sama crewnya untuk mengembalikan uang tiket saja. Sya turun di kota Semarang mencari bus lain. Namun, semakin kagetnya lagi uang yang dikembalikan ternyata dipotong dengan alasan sudah dipotong komisi oleh agent.

Karena saya malas berdebat saya mengatakan, "iya tidak apa-apa." Dalam hati saya hanya berfikir seperti inikah kualitas dari PO Garuda Mas suatu perusahaan otobis kebanggaan orang Purwodadi khususnya.

Untuk itu melalui surat pembaca ini kami menghimbau kepada Management PO Garuda Mas agar lebih memperhatikan agent-agentnya dalam koordinasi penjualan tiket. Agar kejadian seperti saya tidak sampai terjadi kepada penumpang lain.

Sebagai informasi harga tiket yang saya beli Rp 160,000 dan uang yang dikembalikan Rp 144,000 memang tidak banyak. Hanya saja saya masih tidak habis pikir. Jelas-jelas itu kesalahan mereka tapi kenapa kok tidak ada tanggung jawabnya sama sekali dan masih dipotong pengembalian uang tiketnya.

Agus
Pejompongan RT 014/007 Jakarta Pusat
braboaguse@yahoo.com
0817117553



(msh/msh)

Share:



 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com,
Suara Pembaca Terbaru Index »
OpiniAnda Index »
  • Senin, 26/01/2015 09:04 WIB
    Pertobatan Moral dan Etis Penegak Hukum
    Drama hukum menegangkan bumi nusantara telah digelar nyata, bukan fiksi tapi realita. Sikap maryarakat nyata terbelah, tidak seperti Cicak vs Buaya jilid 1 yang sangat terang menderang seluruh komponen bangsa mendukung dibalik KPK.
ProKontra Index »

Jika Presiden Jokowi Berhentikan BW, BG Juga Harus Dinonaktifkan

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) mengajukan berhenti sementara karena menjadi tersangka di Polri. Menurut peneliti ICW, Donal Fariz, bila Presiden nanti menerima pengunduran diri BW, maka Presiden juga harus menonaktifkan Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai calon Kapolri. Apalagi kasus yang menjerat Komjen BG lebih krusial, yakni korupsi dibanding kasus yang menjerat BW, pidana biasa. Bila Anda setuju dengan Donal Fariz, pilih Pro!
Pro
74%
Kontra
26%
Poling Index »

Gubernur Jokowi akan memberlakukan sistem pelat nomor ganjil dan genap untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta. Setujukah Anda dengan sistem ini?