detikcom

Bunga Tinggi KPR CIMB Niaga

Aji - suaraPembaca
Sabtu, 24/04/2010 10:52 WIB
Jakarta - Sudah hampir satu tahun saya mengeluhkan tingkat suku bunga KPR CIMB Niaga yang sangat tinggi (13,75%) dari yang sebelumnya di angka 10% pada saat akad kredit. Sementara suku bunga KPR bank-bank lain memberikan bunga KPR yang relatif sangat rendah dengan rentang 8% - 10%.

Bunga KPR CIMB Niaga saat ini sangat membebani keuangan saya. Saya terus menerus mengeluhkan hal ini kepada layanan purna-jual (after-sales service) CIMB Niaga Bandung.

Saya sempat melayangkan juga keberatan saya melalui surat resmi kepada pejabat terkait di CIMB Niaga untuk menurunkan bunga KPR saya. Tetapi, jawaban yang saya terima hanyalah saran agar saya mengganti skema penentuan bunga tetap tahunan menjadi bunga mengambang bulanan dengan menandatangani adendum
yang menyetujui pergantian skema itu.

Harus saya akui pelayanan Customer Service (CS) CIMB Niaga cukup ramah dan responsif. Namun, CS sama sekali tidak memberikan solusi terhadap permasalahan saya. Saya tidak mau mengganti skema kredit KPR saya menjadi skema lain. Saya hanya ingin suku bunga KPR saya diturunkan ke tingkat yang sesuai dengan kemampuan finansial saya. Yaitu di angka 9%.

Masalah ini saya sampaikan agar ada kebijakan dari manajemen CIMB Niaga. Agar bunga KPR saya disesuaikan. Terima kasih atas perhatiannya. 

Aji
Kompleks Griya Kuning Asri Blok G-11 Bandung
triaji@gmail.com
08122.427.427



(msh/msh)

Share:



 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com,
OpiniAnda Index »
ProKontra Index »

Motor akan Dilarang Melintas di Jalan Protokol Jakarta

Pada Desember 2014 mendatang motor tidak diperbolehkan untuk melintas di Bundaran HI hingga Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Rencananya motor akan dilarang di semua jalan protokol yang ada di Jakarta. Bila Anda setuju dengan kebijakan Pemprov DKI ini, pilih Pro!
Pro
33%
Kontra
67%
Poling Index »

Gubernur Jokowi akan memberlakukan sistem pelat nomor ganjil dan genap untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta. Setujukah Anda dengan sistem ini?