detikcom

Parkir di Central Park Tanjung Duren Membuat Susah Pengunjung

Hartawan - suaraPembaca
Selasa, 10/08/2010 13:33 WIB
Jakarta - Jujur saya kecewa dengan pola sistem parkiran di Central Park Tanjung Duren. Mengapa? Sering kali jalan parkir ditutup dengan alasan yang tidak jelas. Kalau orang mau parkir di basement malah disuruh parkir di lantai atas (dengan paksaan). Kebijakan parkir seperti ini menurut saya sangat menyusahkan pengunjung.

Saya sering mengalami hal seperti itu terutama bila pergi di hari libur. Pengalaman pertama saya adalah ketika ingin pergi ke Carrefour untuk belanja barang lumayan banyak saya dipaksa parkir di lantai atas karena jalan menuju parkir basement ditutup dengan alasan yang tidak masuk akal (dikatakan bahwa parkiran penuh tapi ketika saya cek sewaktu berada di basement parkiran banyak yang kosong).

Saya pergi belanja di Carrefour dan keluar menggunakan trolley. Ketika saya ingin membawa trolley naik ke tempat parkir saya (berada di lantai 1 sedangkan Carrefour berada di LG) satpam segera mendatangi saya dan berkata kalau bawa trolley harus naik lift barang yang berada di lahan parkir. Oke.

Saya pergi ke lift parkir. Keluar dari lift parkir saya berjalan menuju parkiran dan melihat kalau untuk menurunkan trolley dan membawa-nya menuju mobil saya harus mengangkat keseluruhan trolley tersebut karena tidak tersedia jalan khusus trolley. Jalan yang tersedia hanyalah tangga biasa yang per-step-nya cukup tinggi dan tidak mungkin menurunkan trolley melalui tangga tersebut.

Jadi dengan terpaksa dan sangat menyusahkan saya harus menurunkan barang satu per satu dan membawa barang tersebut menuju mobil yang letaknya lumayan jauh dari tangga tersebut dengan meninggalkan trolley saya di atas tangga. Tanpa ada yang jaga dan dengan risiko barang belanjaan saya dicuri orang lain.

Bagaimana bila yang belanja adalah orang tua? Apakah misalkan keluarga yang membawa kakek nenek yang sudah tua berjalan dan makan ke mall Central Park tersebut harus parkir mobil di lantai atas lalu berjalan kaki dari parkiran. Lalu turun melalui eskalator atau lift? Bukankah itu sangat menyusahkan orang?

Jika alasannya adalah parkiran penuh toh sebelum masuk parkiran sudah ada papan LED yang menunjukkan sisa jumlah lahan kosong untuk parkir, kalau memang pengemudi tersebut nekat masuk ke bawah walau angka yang ditulis di papan tersebut menunjukkan angka 0 (nol), maka itu adalah risiko pengemudi tidak mendapatkan parkiran.

Kepada pihak pengelola mall Central Park Tanjung Duren, bagaimana jika anda masuk ke mall dengan total 6 lantai, anda ingin pergi ke lantai 1, tapi anda dipaksa parkir di lantai atas (antara lantai 4-6) dengan alasan yang ternyata hanya dibuat-buat saja oleh satpam yang tidak bertanggung jawab tersebut? Apa perasaan anda?

Tolong renungkan. Kalau misalnya kebijakan penutupan jalur parkir tersebut bukan dibuat oleh pengelola gedung, tolong agar siapa pun yang membuat kebijakan tersebut diberitahu hal ini. Saya tahu Podomoro Group sangat besar dan terkenal dalam hal bangun-membangun gedung. Tapi, tolong jangan hanya bisa membuat atau membangun gedung saja tapi juga bisa me-maintain gedung tersebut sehingga menyenangkan banyak pihak. Terutama dari pihak pengunjung, karena tujuan dibuat mall adalah supaya pengunjung ramai dan senang. Bukan untuk membuat pengunjung susah.

Jujur saya bingung dengan budaya di Indonesia terutama di Jakarta. Jalan untuk mobil dibuat tapi sering ditutup. Lantas untuk apa jalan itu dibuat? Lebih baik jalan itu ditutup lalu dibuat taman untuk menghijaukan kota daripada taman yang sudah ada malah dihancurkan untuk dibuat jalan yang tidak bisa digunakan oleh orang lain. Terima kasih.

Hartawan
Jl Bendungan Walahar Jakarta
cinhau.gani@yahoo.com
02160618128



(msh/msh)

Share:



 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com,
Suara Pembaca Terbaru Index »
OpiniAnda Index »
  • Selasa, 16/09/2014 11:33 WIB
    'Mengobati' Pilkada Langsung Oleh Rakyat
    Penulis teringat seuntai kalimat ceramah Almarhum Dr.H. Zainuddin MZ, 'ibarat makan salak, bukan isinya yang kita makan tetapi kulitnya yang kita ambil lalu batunya kita telen, ya pasti rusak'.
ProKontra Index »

Pilkada via DPRD Potensi Korupsinya Lebih Tinggi!

DPR hari ini akan mengesahkan RUU Pilkada yang salah satunya akan menentukan apakah pemilihan kepala daerah akan tetap dilakukan secara langsung atau dikembalikan ke DPRD. KPK berpandangan, Pilkada lewat DPRD justru potensi korupsinya lebih tinggi. Bila Anda setuju dengan KPK, pilih Pro!
Pro
58%
Kontra
42%
Poling Index »

Gubernur Jokowi akan memberlakukan sistem pelat nomor ganjil dan genap untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta. Setujukah Anda dengan sistem ini?