detikcom

Mandala oh Mandala, Mengapa Engkau Demikian Parah

Irwan Kusuma - suaraPembaca
Selasa, 19/10/2010 14:28 WIB
FOTO: /ilus ist.
Jakarta - Tanggal 13 Oktober 2010 saya akan berangkat dari Surabaya ke Denpasar dengan Mandala Airlines RI566. Jadwal penerbangannya jam 15.35 WIB. Saya tiba di Juanda sekitar pukul 14.15 saya langsung menuju EXECUTIVE BAGGAGE HANDLING untuk membantu saya chek in. Setelah itu saya langsung menuju EXECUTIVE LOUNGE.

Seperti biasa saya menunggu di sana sampai ada panggilan barulah saya menuju ke ruang tunggu penumpang. Petugas scanner sempat menanyakan salah satu barang bawaan saya yang ternyata adalah bumbu dapur. Setelah melewati scanner, dan melakukan antrian untuk masuk pesawat (sebagian besar penumpang sudah masuk) ternyata petugas Mandala menyatakan bahwa "bumbu dapur" yang saya bawa harus masuk bagasi.

Waktu itu saya bertanya seberapa besar urgensinya hal itu. Sebab, hal itu akan membuat pesawat mengalami penundaan terbang sekitar 5-10 menit dan apa saya akan ditinggal nantinya? Petugas mengatakan tidak apa mereka akan menunggu saya. Saya masih bersikeras, dan berkata bahwa bawaan saya tidak saya persiapkan untuk masuk bagasi (maunya saya bawa langsung) jika ada barang yang hilang bagaimana?

Petugas mengatakan tidak akan ada yang hilang. Karena, saya "dipaksa" (under pressure) dan ada jaminan dari petugas, mau tidak mau, suka tidak suka, saya akhirnya turun lagi ke bawah untuk memasukan bawaan saya ke bagasi. Di sana saya lihat sudah tidak ada orang lagi dan mereka juga sedikit heran. Dan, saya kembali mengingatkan petugas yang ada untuk berhati-hati dengan barang bawaan saya.

Akhirnya setelah itu saya kembali ke atas. Sesampainya di Ngurah Rai saya menunggu bagasi saya dan setelah beberapa saat bawaan saya terlihat. Namun, hati saya langsung tidak enak begitu melihat resleting yang tidak tertutup sempurna. Saya baru ingat di sana ada PSP saya dan setelah saya cek benar kekuatiran saya bahwa PSP saya hilang.

Tanpa menunda waktu lagi saya langsung melapor pada petugas Bandara Ngurah Rai sambil memperlihatkan resleting tas saya yang tidak tertutup sempurna dan barang di dalamnya yang terlihat diacak-acak. Dan, saya melaporkan kehilangan PSP. Petugas tersebut mengintruksikan pada saya untuk mengingat dan memeriksa lagi apakah ada barang lain lagi yang hilang.

Saya lakukan itu, dan dalam ingatan saya tidak ada lagi barang lain yang hilang. Setelah membuat laporan/ komplain saya diajak menemui petugas Mandala (Bapak Ahmad Kurniawan) untuk melaporkan kembali apa yang terjadi. Bapak Ahmad sempat berkata, "bukan saya tidak percaya dengan Bapak, tapi saya tidak tahu?"

Ini pertanyaan apa? Apakah ini mindset yang ditanamkan Mandala untuk selalu benar dan berprasangka buruk pada konsumen? Jika saya tidak jujur saya bilang saja di tas itu ada uang jutaan, atau ada laptop, atau elektronik yang mahal. Kok Cuma PSP? Dan, ketika saya ditanya apa ada lagi barang lain yang hilang.

Kalau mau bohong saya jawab saja ada banyak sekali yang hilang agar saya "untung". Tapi, saya menjawab cuma satu yaitu PSP, kenapa begitu? Karena saya ini orang jujur, hilang saya bilang hilang, tidak dikurangi, tidak ditambahi.

Jika saya dari awal memang ingin taruh di bagasi, kemudian saya menaruh barang yang "mengundang" di sana itu masih ada andil saya dalam peristiwa itu. Ini saya dari awal tidak mau naruh di bagasi, saya "dipaksa" untuk menaruh barang itu di bagasi, dan di-"pressure" dengan waktu yang mepet.

Jadi dalam hal ini apakah Mandala tidak berkewajiban untuk mengamankan policy-nya? Jika memang menaruh bumbu di bagasi adalah untuk menjaga "ketertiban" itu baik. Tapi, jika hasilnya ada kehilangan apa tidak besar pasak dari tiang? Bumbu dapur di kabin pesawat vs kehilangan PSP,  bagaimana ini? Apakah itu layak?

Dalam kondisi normal pun menurut saya Mandala harus bertanggung jawab atas keamanan bagasi penumpang. Apalagi dalam kondisi seperti ini. Ini kan pesawat terbang (baca: Mandala), tranportasi premium, bagaimana jika keamanannya seperti ini? Masak sih tidak ada tanggung jawabnya? Apa tidak kasihan konsumennya?

Belum lagi pada hari yang sama orang tua saya juga berencana terbang dari Denpasar ke Jakarta dengan Mandala RI567 jam 17.55 WITA. Orang tua saya berangkat dari Denpasar sekitar jam 15.00 WITA dengan asumsi perjalanan paling lama 1 jam. Ternyata kondisi jalan saat itu benar-benar macet parah. Pengalihan arus di sana-sini sehingga akhirnya orang tua saya tiba di counter chek in jam 17.35.

Saat itu counter sudah tidak lagi melayani penumpang. Padahal, banyak (sekitar belasan) orang yang juga terlambat datang karena kemacetan luar biasa yang terjadi. Dengan alasan penumpang harus datang satu jam sebelumnya. Petugas mengatakan tiket hangus. Apa ini benar?

Beberapa jam yang lalu hanya karena bumbu Mandala bersedia memundurkan jam terbangnya. Tapi, ini belasan orang terlambat karena macet yang benar-benar macet (bukan alasan) dibilang pesawat sudah terbang. Apa itu mungkin? Apa boleh tiket yang tertulis 17.55 tapi ternyata jam 17.35 sudah terbang? Apa ini bukan sesuatu yang benar-benar ngawur?

Berdasarkan apa yang saya alami sebelumnya seharusnya pesawat masih ada, dan seharusnya waktu 20 menit cukup untuk membantu belasan pemumpang yang terlambat (versi saya seharusnya tidak terlambat). Apakah bumbu dapur bobotnya lebih besar dari belasan penumpang? Sehingga, untuk bumbu dapur keberangkatan bisa ditunda sedangkan untuk belasan penumpang tidak?

Apa ini tidak benar-benar kacau? Dan, jika memang benar pesawat berangkat lebih dulu dari waktu yang tercantum di tiket, apakah hal ini dibenarkan oleh peraturan penerbangan? Apakah itu bukan semena-mena? Di manakah empati terhadap konsumen anda wahai Mandala?

Menurut saya (koreksi jika saya salah) Mandala memiliki kewajiban minimum (sekali lagi minimum) untuk Pertama mengganti kehilangan (PSP) saya, yang jelas disebabkan oleh kebijakan Mandala sepenuhnya, dan saya telah berargumentasi untuk hal tersebut. Kedua, mengganti tiket orangtua saya yang dihanguskan dengan alasan yang tidak jelas.

Jika kewajiban minimum saja tidak dipenuhi bagaimana ini? Apa benar seperti ini nasib konsumen? Bagaimana ini lembaga konsumen? Apa tidak sebaiknya hal ini ditindaklanjuti oleh badan atau instansi yang berwenang? Jika ini terus dibiarkan apa nantinya tidak akan semakin parah?

Dalam situasi penerbangan nasional yang sedang memperbaiki citra, apa ini tidak akan menjadi ganjalan? Apakah kita sebagai konsumen hanya bisa mengurut dada dengan kesewenang-wenangan yang terjadi?
 
Irwan Kusuma
Jl Jend Sudirman 8 (82211)
Negara - BALI
surat.irwan@yahoo.co.id
08123610008


(msh/msh)

Share:



 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com,
OpiniAnda Index »
  • Jumat, 22/08/2014 08:51 WIB
    Lapangan Monas: Alun-alun Republik Indonesia
    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menata kembali manajemen kawasan Monumen Nasional, sehubungan dengan kesemerawutan pedagang kaki lima serta parkir liar di kawasan tersebut.
ProKontra Index »

Pemprov DKI Larang Aplikasi Taksi Uber

Baru diluncurkan sepekan, aplikasi penghubung taksi Uber langsung mendapat respons negatif dari Pemprov DKI. Alasan pelarangannya, mulai dari tak ada izin, tak ada kantor, tak mengikuti tarif resmi, berpelat hitam sehingga dikhawatirkan merugikan konsumen. Bila Anda setuju dengan Pemprov DKI yang melarang aplikasi taksi Uber, pilih Pro! Bila tidak setuju pelarangan taksi Uber, pilih Kontra!
Pro
89%
Kontra
11%
Poling Index »

Gubernur Jokowi akan memberlakukan sistem pelat nomor ganjil dan genap untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta. Setujukah Anda dengan sistem ini?