detikcom

Bagaimana BCA Mengenai Penawaran Marketing Grand Parahyangan

Suryo Adinugroho - suaraPembaca
Senin, 20/12/2010 09:51 WIB
Jakarta - Belum sebulan punya kartu kredit BCA saya ditelepon oleh Marketing dari PT Grand Parahyangan. Mereka mengatakan saya 1 dari 50 pemegang kartu Visa dan Master Card yang berhak mendapat voucher hotel dan diskon. Hebatnya mereka tahu nama lengkap saya, telepon, dan alamat rumah.

Tanpa curiga saya menerima tawaran tersebut dan hanya membayar 1,99 juta bisa dicicil 12 kali dengan bunga 0%. Tapi, ternyata setelah kurir datang dan melakukan transaksi dengan EDC GPRS BCA saya harus membayar tenor 1,99 ribu x 12 yang artinya saya harus bayar 2,4 juta. Saya sudah komplain dengan marketingnya dan jawabannya kurang memuaskan.

Dengan terpaksa saya mendatangi Kantor PT Grand Parahyangan di Jl Dr Saharjo 78A (yang maaf, sangat tidak layak seperti kantor travel agent). Bertemu Bapak Alvin, saya bermaksud refund dan mengembalikan voucher tersebut tapi tidak bisa.

Merasa tertipu saya lapor ke Card Center BCA meminta transaksi dibatalkan. Saya dikonfirmasi oleh pihak Card Center BCA maupun biro kredit BCA semuanya minta surat pembatalan dari merchant.

Ternyata di internet dan juga surat pembaca detik banyak sekali komplain mengenai perusahaan ini (Samudera Beach, Anyer Beach, atau pun Grand Parahyangan). Yang semuanya beralamat di Saharjo 78A.

Saya akui dengan sadar tanda tangan di struk transaksi. Tapi, saya benar-benar kecewa. Bagaimana merchant yang jelas-jelas melakukan tindakan penipuan bisa diberikan EDC BCA yang saya yakin bukan sekali dua kali komplain mengenai merchant ini ke Card Center.

Bagaimana dengan tagihan saya yang harus langsung membayar 2 juta setelah kartu Visa BCA saya blokir? Apakah seperti ini perlindungan terhadap konsumen. Jelas tidak mungkin Grand Parahyangan mau memberikan surat pembatalan transaksi.

Yang paling penting bagaimana mereka bisa tahu data alamat saya dengan detail? Hati-hati juga terhadap sales kartu kredit. Jangan sampai data kita dijual ke pihak yang tidak bertanggung jawab. Terima kasih.

Suryo Adinugroho
suryo.adinugroho@yahoo.com
02130977926
Tebet Jakarta



(msh/msh)

Share:



 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com,
Suara Pembaca Terbaru Index »
OpiniAnda Index »
  • Jumat, 22/08/2014 08:51 WIB
    Lapangan Monas: Alun-alun Republik Indonesia
    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menata kembali manajemen kawasan Monumen Nasional, sehubungan dengan kesemerawutan pedagang kaki lima serta parkir liar di kawasan tersebut.
ProKontra Index »

Harga BBM Harus Naik

Terbatasanya kuota BBM bersubsidi berimbas pada langkanya BBM di sejumlah SPBU plus antrean panjang kendaraan. Presiden terpilih Jokowi mengusulkan pada Presiden SBY agar harga BBM dinaikkan. Jokowi mengatakan subsidi BBM itu harus dialihkan pada usaha produktif, ditampung di desa, UMKM, nelayan. Menurutnya anggaran subsidi jangan sampai untuk hal-hal konsumtif seperti mobil-mobil pribadi. Bila Anda setuju dengan Jokowi bahwa harga BBM harus naik, pilih Pro!
Pro
42%
Kontra
58%
Poling Index »

Gubernur Jokowi akan memberlakukan sistem pelat nomor ganjil dan genap untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta. Setujukah Anda dengan sistem ini?