detikcom

Refund Pembelian Voucher di ATM Mandiri yang Gagal

Hendra Suprayogi - suaraPembaca
Rabu, 20/06/2012 10:02 WIB
Bandung - (Bapak Hendra Suprayogi telah menerima refund pembelian voucher dari Mandiri)

Pada hari Senin (11/06/2012), saya melakukan transaksi pembelian voucher simPATI di ATM Mandiri Jalaprang Bandung dengan nominal Rp.100.000 dan berhasil.

Setelah itu saya lanjutkan transaksi pembelian voucher Rp.50.000 ke nomor simPATI yang lainnya. Proses begitu lama, yang kemudian muncul pesan di layar monitor bahwa "Transaksi sedang diproses, jika proses gagal akan dikembalikan maksimal 4 hari".

Saya tunggu hingga 1 hari berikutnya, pulsa belum masuk, lalu saya menghubungi call center 14000 dan disuruh untuk menunggu hingga 1x24 jam.

Dikarenakan belum ada hasil saya kembali menghubungi 14000, diinformasikan jika proses telah dibatalkan dan menunggu 2-3 hari atau maksimal 4 hari. Tepat 1 minggu belum juga ada refund, dan saya diminta untuk menunggu maksimal 14 hari oleh call center 14000.

Seharusnya Bank Mandiri sebagai bank Nasional, memberikan layanan memuaskan kepada pelanggan, termasuk Layanan Call Center Bebas Pulsa dan Refund dana yang cepat, apalagi sampai 14 hari.


Hendra Suprayogi
Ranca Indah, Rancaekek, Bandung
azep291@gmail.com
081320750766


(wwn/wwn)

Share:



 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com,
Suara Pembaca Terbaru Index »
OpiniAnda Index »
ProKontra Index »

Jokowi Harus Dengarkan Informasi KPK agar Ciptakan Kabinet Bersih

KPK mengatakan 43 nama calon menteri yang diberikan Jokowi, setengahnya memiliki rapor merah atau incaran KPK. Pengamat politik dari UGM Ari Dwipayana mengimbau agar Jokowi harus mendengarkan informasi dari KPK tersebut agar dapat menciptakan kabinet yang bersih.Bila Anda setuju dengan Ari Dwipayanya, pilih Pro!
Pro
69%
Kontra
31%
Poling Index »

Gubernur Jokowi akan memberlakukan sistem pelat nomor ganjil dan genap untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta. Setujukah Anda dengan sistem ini?