detikcom

Tagihan Okevision Membingungkan

Fakhri Budhi Gunarto - suaraPembaca
Selasa, 10/07/2012 12:42 WIB
Yogyakarta - (Permasalahan yang dikeluhkan telah diselesaikan dengan baik oleh pihak Okevision)

Tertanggal 26 November 2011 saya mengisi form aplikasi berlangganan Okevision untuk rumah orang tua di Semarang dengan dua dekoder sekaligus, paket nomat.

Saya membayar masing masing Rp 140.000, dengan rincian Rp 55.000 biaya untuk berlangganan bulan pertama dan Rp 85.000 untuk biaya instalasi.

Pada bulan April 2012 saya mendapat SMS tagihan biaya yang ternyata terdapat perbedaan tagihan antara nomor pelanggan yang satu dengan yang lainnya, yang pertama tertera Rp 195.616, sedangkan yang kedua Rp 315.616.

Untuk tagihan yang pertama sudah saya bayarkan, sedangkan untuk tagihan yang kedua saya tunda terlebih dahulu. Customer service yang saya hubungi meminta sata untuk mengirimkan formulir aplikas dan sudah saya penuhi.

Pada tanggal 12 April saya menghubungi customer service kembali, disampaikan bahwa telah terjadi kesalahan, dan tagihan sudah dirubah menjadi Rp 196.616, tagihan inipun kemudian saya bayarkan melalui internet banking.

Namun pada tagihan bulan Mei 2012 kembali terjadi perbedaan, tagihan pertama sudah normal sebesar Rp 60 ribu, namun untuk tagihan yang kedua tercatat Rp 188.166.

Setelah beberapa kali menghubungi customer service, tagihan kedua akhirnya dirubah menjadi Rp 60 ribu, dan langsung saya bayarkan tagihan tersebut.

Sebelumnya saya mengira kejadian ini tidak akan terulang lagi, namun pada bulan berikutnya hingga bulan Juli 2012 masih terjadi perbedaan tagihan. Apakah saya harus selalu menghubungi customer service untuk masalah penagihan setiap bulannya?


Fakhri Budhi Gunarto
Perum Candi Gebang Permai Blok I Sleman, Yogyakarta
goenz_mg@yahoo.co.id
081392227371


(wwn/wwn)

Share:



 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com,
OpiniAnda Index »
ProKontra Index »

Motor akan Dilarang Melintas di Jalan Protokol Jakarta

Pada Desember 2014 mendatang motor tidak diperbolehkan untuk melintas di Bundaran HI hingga Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Rencananya motor akan dilarang di semua jalan protokol yang ada di Jakarta. Bila Anda setuju dengan kebijakan Pemprov DKI ini, pilih Pro!
Pro
33%
Kontra
67%
Poling Index »

Gubernur Jokowi akan memberlakukan sistem pelat nomor ganjil dan genap untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta. Setujukah Anda dengan sistem ini?