detikcom

Berhenti Berlangganan Paket Internet, Tagihan Masih Datang

Germanus Wirjadinata - suaraPembaca
Rabu, 15/08/2012 15:26 WIB
Jakarta - Saya berlangganan paket internet gaul dengan akses internet unlimited. Di akhir masa berlangganan, saya memutuskan untuk berhenti berlangganan karena kecewa dengan sinyal internet yang seringa menghilang.

Ternyata setelah diputus sebelum masa kontrak berakhir, di tagihan muncul pemakaian GPRS sebesar Rp.122.000. Padahal, sejak saya berhenti berlangganan, nomor tersebut saya pindahkan ke telepon yang tidak bisa internet.

Tanggal 5 Agustus saya menelepon customer service dan dijanjikan dalam waktu 7X24 jam masalah akan diatasi. Dan karena sampai hari ke delapan tidak solusi, saya ke Galeri Indosat Mangga Dua, tetap dengan jawaban yang sama,

Sampai dengan surat keluhan ini saya buat, Indosat belum memberikan tanggapan perihal tagihan diatas.


Germanus Wirjadinata
Jl. Agung Perkasa, Jakarta Utara
connectingdot@yahoo.com
08559921689

(wwn/wwn)

Share:



 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com,
Suara Pembaca Terbaru Index »
OpiniAnda Index »
  • Selasa, 16/09/2014 11:33 WIB
    'Mengobati' Pilkada Langsung Oleh Rakyat
    Penulis teringat seuntai kalimat ceramah Almarhum Dr.H. Zainuddin MZ, 'ibarat makan salak, bukan isinya yang kita makan tetapi kulitnya yang kita ambil lalu batunya kita telen, ya pasti rusak'.
ProKontra Index »

16 Kursi Menteri dari Parpol di Kabinet Jokowi Terlalu Banyak

Presiden Terpilih Jokowi telah mengumumkan postur kabinetnya. Jokowi memberi jatah 16 kursi untuk kader parpol. Menurut pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto, 16 kursi untuk kader parpol ini dinilai terlalu besar, tak sesuai harapan publik. Awalnya publik mengira jatah menteri untuk parpol jauh lebih sedikit. Bila Anda setuju dengan Gun Gun Heryanto, pilih Pro!
Pro
42%
Kontra
58%
Poling Index »

Gubernur Jokowi akan memberlakukan sistem pelat nomor ganjil dan genap untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta. Setujukah Anda dengan sistem ini?