detikcom

Metland Tambun Membatalkan Pembelian Hanya Lewat SMS

Mervyn - suaraPembaca
Kamis, 23/08/2012 10:31 WIB
Bekasi - Saya berencana melakukan pembelian rumah di Perumahan Metland Tambun dan sudah membayar booking fee sebesar Rp 5 juta kepada seorang sales Metland.

Dikarenakan saya belum membayar angsuran uang muka pertama, menjelang angsuran yang ke 2 saya menerima sms dari sales yang menyatakan bahwa developer telah membatalkan pesanan saya.

Sedangkan di dalam keterangan Tanda Terima Sementara yang saya dapatkan beserta dari info sales yang lain bahwa proses tersebut tidak benar.

Yang ingin saya pertanyakan dari penjelasan sales tersebut, kenapa jika kredit KPR tersebut ditolak, uang booking fee akan dipotong 50 % untuk biaya administrasi?

Dan mengapa pembatalan dari pihak developer hanya disampaikan melalui sms sales, bukan oleh pihak administrasi developer via telepon.

Untuk itu saya mohon penjelasannya, karena saya benar-benar berniat untuk membeli rumah tersebut.

Belum mulainya saya membayar angsuran uang muka pertama karena saat itu saya masih bingung menentukan nama untuk kredit tersebut. Terima kasih


Mervyn
Jl.Raya Narogong, Bekasi
calvinlorens@gmail.com
087888556977

(wwn/wwn)

Share:



 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com,
Suara Pembaca Terbaru Index »
OpiniAnda Index »
ProKontra Index »

Biarkan Ahok Pilih Pendampingnya Pimpin DKI

Siapa bakal pendamping Plt Gubernur DKI Ahok? Masih menjadi pro kontra antara parpol di DPRD DKI dan Kemendagri. Kemendagri memastikan Plt Gubernur DKI Basuki T Purnama atau Ahok menjadi Gubernur menggantikan Joko Widodo. Setelah diberhentikan sebagai Wagub dan Plt Gubernur dan diangkat menjadi Gubernur, Ahok bisa memilih dua orang untuk menjadi wakilnya. Bila Anda setuju dengan Kemendagri, pilih Pro!
Pro
76%
Kontra
24%
Poling Index »

Gubernur Jokowi akan memberlakukan sistem pelat nomor ganjil dan genap untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta. Setujukah Anda dengan sistem ini?